🧩 Mixed-Methods
Mixed-Methods = Jalur B (Fenomenologi) + lapisan coding tematik paralel. Cocok untuk thesis yang ingin defense advantage via cross-validation antara essence dan thematic codes.
Kapan Mixed-Methods berguna?
- Sidang akan tanya: "Bagaimana Anda tahu essence yang Anda temukan tidak bias?"
→ Jawaban: "Saya cross-validate dengan thematic coding dari teori berbeda." - Penguji eksternal lebih familiar dengan thematic analysis.
- Anda ingin tabel codes + quotes di Bab IV, plus essence statement.
- Disertasi yang butuh original contribution + methodological rigor explicit.
Aktifkan Mixed-Methods
- Di workspace Mode A, klik tombol Mixed-Methods Toggle di header (atau context panel).
- Aktivasi membuat lapisan coding berjalan paralel dengan PASCA checkpoints fenomenologi.
- Cross-link otomatis: quote yang menjadi essence material akan ditandai juga sebagai segmen coding.
Cara Cross-Validate
- Selesaikan PASCA checkpoints fenomenologi seperti biasa.
- Kembali ke tab Kualitatif → review codes yang muncul dari segmen sama.
- Bandingkan: apakah themes dari coding align dengan essence dari fenomenologi?
- Diskrepansi adalah temuan berharga, bukan kelemahan.
Output di Final Report
- Bab IV / Findings: Essence Statement (fenomenologi) + Coding Analysis (mixed-methods layer).
- Tabel kode dengan kutipan ilustratif.
- Cross-validation paragraph: bagaimana essence didukung oleh tematik patterns.
Trade-off
- + Defense advantage signifikan.
- + Output lebih kaya (essence + themes).
- − Waktu lebih lama (~+30–50%).
- − Token AI lebih boros (dual analysis).
- − Coordination overhead: pastikan essence dan themes tidak saling mengaburkan.
Catatan: Bukan Mandatory
Mixed-methods opsional. Untuk skripsi S1 atau thesis dengan timeline ketat, fenomenologi murni (tanpa coding layer) sudah memadai. Aktifkan hanya jika defense advantage cross-validation memang dibutuhkan.