Orang Paling Sibuk di Ruangan, Tim Paling Tertinggal
Promosi yang diam-diam mengganti pekerjaanmu
Ada pola yang berulang di hampir semua tempat kerja di Indonesia: orang yang paling cakap mengerjakan sesuatu diangkat menjadi orang yang memimpin orang lain mengerjakan hal itu. Kasir tercepat menjadi kepala kasir. Perawat paling teliti menjadi kepala ruangan. Staf penjualan dengan angka terbaik menjadi supervisor cabang.
Promosi semacam itu terasa adil, dan sering memang adil. Masalahnya bukan pada keadilannya. Masalahnya, pekerjaan yang membuat seseorang layak dipromosikan bukan pekerjaan yang akan ia hadapi setelah dipromosikan. Kemarin ia dinilai dari apa yang keluar dari tangannya sendiri. Hari ini ia dinilai dari apa yang keluar dari tangan enam orang lain. Tidak ada yang mengumumkan pergantian pekerjaan ini. Surat penugasannya cuma menyebut jabatan baru, bukan pekerjaan baru.
Akibatnya bisa ditebak: orang itu mengerjakan pekerjaan lamanya dengan lebih keras, di kursi yang baru.
Tiga gejala yang biasanya muncul lebih dulu
Sebelum angka jelek muncul di laporan, biasanya ada tiga gejala yang lebih dulu terasa.
Pertama, kamu paling sibuk dan timmu justru paling longgar. Kamu datang paling pagi, pulang paling malam, dan merasa satu-satunya orang yang benar-benar mengerti keadaan. Anggota timmu pulang tepat waktu bukan karena mereka malas, tetapi karena bagian yang paling menentukan sudah kamu kerjakan sendiri.
Kedua, kamu hafal semua detail, tetapi timmu tidak tahu arah. Kamu bisa menyebut nama pelanggan, nomor faktur, dan sisa stok dari ingatan. Namun kalau anggota timmu ditanya satu per satu "apa target unit ini bulan ini", jawaban mereka berbeda-beda.
Ketiga, kamu punya wewenang, tetapi tidak ada yang berubah tanpa kehadiranmu. Kamu berhak menandatangani, menyetujui, dan menegur. Tetapi begitu kamu cuti tiga hari, pekerjaan menumpuk menunggu tanda tanganmu, bukan berjalan tanpa kamu.
Ketiga gejala itu punya satu akar yang sama, dan akar itulah isi modul ini.
Kasus yang akan menemani kita
Kita pakai satu kasus rekaan sepanjang modul supaya pembicaraan tidak melayang.
Ratna adalah Supervisor Cabang Tegal pada sebuah perusahaan distributor alat tulis dan perlengkapan kantor. Ia memimpin tim berisi enam orang. Ia hadir paling pagi, pulang paling malam, dan mengerjakan sendiri hampir semua hal yang ia anggap penting: pelanggan besar, laporan penagihan, sampai membuka toko. Atasannya menyebut Ratna "supervisor paling rajin di wilayah".
Meski begitu, cabang Tegal gagal memenuhi target penjualan tiga bulan berturut-turut, dan angkanya menurun dari bulan ke bulan. Bukan stagnan — menurun.
Pertanyaan yang wajar muncul: kalau orangnya sudah serajin itu, apa lagi yang kurang? Jawabannya tidak terletak pada seberapa keras Ratna bekerja, melainkan pada jenis pekerjaan apa yang ia kerjakan. Data lengkap kasus ini — angka target, angka realisasi, susunan tim, dan daftar aktivitas harian Ratna — kita bedah langkah demi langkah nanti pada Unit 4 (Contoh). Untuk sekarang, cukup pegang gambaran besarnya.
Tiga hal yang sering dianggap sama
Sebagian besar kebingungan seperti kasus Ratna berasal dari tiga hal yang dalam percakapan sehari-hari dipakai bergantian, padahal berbeda:
- Memimpin — pekerjaan mengubah arah, kemampuan, dan kemauan orang.
- Mengelola — pekerjaan menjaga agar yang sudah disepakati tetap berjalan.
- Memegang jabatan — kedudukan formal yang memberi hak memutuskan dan kewajiban mempertanggungjawabkan.
Ketiganya sah, ketiganya dibutuhkan, dan tidak satu pun lebih mulia dari yang lain. Yang berbahaya adalah menyangka ketiganya satu benda. Orang yang menyangka jabatan sudah otomatis berarti kepemimpinan akan berhenti berusaha begitu surat penugasannya turun. Orang yang menyangka mengelola sudah cukup akan mengurus jadwal dengan rapi sambil timnya berjalan ke arah yang salah dengan sangat tertib.
Yang akan kamu bisa setelah modul ini
Modul ini tidak akan memberimu resep menjadi pemimpin hebat. Ia memberi sesuatu yang lebih mendasar dan lebih bisa dipakai besok pagi: kemampuan memilah pekerjaanmu sendiri. Setelah modul ini kamu akan bisa membedakan ketiga jenis pekerjaan itu pada situasi kerja nyata, menentukan hasil mana yang benar-benar menjadi tanggung jawabmu sebagai pemimpin tim dan mana yang bukan, serta membedah satu kasus kegagalan tim untuk menunjuk peran kepemimpinan mana yang tidak dijalankan.
Mulailah dengan satu pertanyaan jujur: dari sepuluh hal yang kamu kerjakan minggu lalu, berapa yang sebenarnya bisa dikerjakan orang lain kalau saja kamu pernah mengajari mereka?