Pekan yang Lebih Melelahkan daripada Tujuh Tahun Sebelumnya
Pekan yang lebih melelahkan daripada tujuh tahun sebelumnya
Rani bekerja tujuh tahun sebagai staf layanan pelanggan di sebuah perusahaan distribusi barang konsumsi di Bekasi. Ia yang paling cepat menutup keluhan, paling jarang salah input, dan paling sering dimintai tolong ketika ada pelanggan yang marah. Bulan lalu ia dipromosikan menjadi Koordinator Tim Layanan Pelanggan. Timnya tujuh orang; empat di antaranya bekas rekan sejawatnya sendiri.
Setelah satu bulan, Rani merasa lebih lelah daripada kapan pun selama tujuh tahun sebelumnya — dan yang membuatnya bingung, ia tidak bisa menunjukkan apa yang sudah ia hasilkan. Dulu di akhir pekan ia bisa berkata: "saya menutup 90 keluhan." Sekarang di akhir pekan ia hanya bisa berkata: "saya sibuk sekali."
Kalau kamu sedang berada di posisi seperti ini, kamu tidak sedang gagal. Kamu sedang mengalami sesuatu yang bisa dijelaskan.
Yang sebenarnya berubah saat kamu dipromosikan
Yang berubah bukan jumlah pekerjaanmu. Yang berubah adalah satuan hasilmu.
Sebagai pelaksana, hasilmu adalah keluaran tanganmu sendiri. Kamu bisa mengukurnya setiap hari: berkas selesai, keluhan tertutup, pesanan terkirim. Umpan baliknya cepat dan memuaskan.
Sebagai pemimpin lini pertama, hasilmu adalah keluaran orang lain. Kamu dinilai dari apa yang dihasilkan tujuh orang, bukan dari apa yang dihasilkan sepasang tanganmu. Dan keluaran orang lain bergerak lambat. Kamu melatih seseorang hari ini, hasilnya baru terlihat tiga pekan lagi. Kamu berbicara empat mata dengan anggota yang sering terlambat, dan tidak ada apa pun yang bisa kamu tunjukkan di layar sesudahnya.
Di sinilah jebakannya. Ketika pekerjaan baru terasa lambat dan kabur, sementara pekerjaan lama terasa cepat dan jelas, hampir semua orang secara refleks kembali ke pekerjaan lama. Rani menghabiskan sebagian besar pekannya mengerjakan ulang input data anggotanya, memperbaiki e-mail mereka sebelum dikirim, dan menangani sendiri keluhan yang paling sulit. Semuanya terasa produktif. Semuanya memang menghasilkan sesuatu. Tetapi tidak satu pun dari itu membuat timnya lebih mampu bulan depan.
Tiga pertanyaan yang belum terjawab
Keterampilan teknis yang membuatmu dipromosikan tidak menjawab tiga pertanyaan yang justru menentukan keberhasilanmu sekarang:
- Apa sebenarnya pekerjaanku sekarang? Mana dari kegiatan sehari-hariku yang benar-benar termasuk memimpin orang, dan mana yang sekadar mengerjakan tugas teknis dengan jabatan baru?
- Sejauh mana aku boleh memutuskan? Anggota tim bertanya, pelanggan menuntut, atasan menunggu. Mana yang boleh kuputuskan sendiri, mana yang harus kuusulkan, dan mana yang sama sekali bukan hakku?
- Kenapa orang mau mengikutiku? Surat keputusan promosi membuat orang wajib mendengarkanmu di rapat. Ia tidak membuat orang mau mengubah cara kerjanya karena kamu.
Banyak pemimpin baru mencoba menjawab ketiganya dengan cara yang sama: bekerja lebih keras. Cara itu tidak berhasil, karena ketiga pertanyaan itu bukan soal jumlah tenaga, melainkan soal ke mana tenaga dibelanjakan.
Yang akan kita kerjakan di modul ini
Modul ini tidak akan memberimu daftar sifat pemimpin ideal. Kita akan mengerjakan tiga hal yang bisa langsung kamu pegang.
Pertama, kita akan memilah satu pekan kerja nyata — pekan kerjamu sendiri — menjadi aktivitas memimpin orang dan aktivitas teknis, memakai uji dua pertanyaan yang bisa kamu pakai berulang.
Kedua, kita akan menyusun batas kewenanganmu ke dalam tiga kotak keputusan yang jelas, sehingga kamu berhenti ragu di depan anggota tim dan berhenti melampaui batas tanpa sadar.
Ketiga, kita akan memetakan lima sumber pengaruh yang tersedia bagi seorang pemimpin, menilai seberapa kuat masing-masing pada dirimu, dan menetapkan satu yang paling lemah untuk kamu bangun lebih dulu.
Di Unit 4 kita akan mengerjakan ketiga langkah itu sampai tuntas pada catatan pekan kerja Rani, dengan angka dan keputusan yang konkret, sebelum kamu mengerjakannya sendiri di Unit 5.
Satu hal yang perlu kamu tahu sejak awal: menjadi pelaksana terbaik bukan kesalahan, dan keahlian teknismu bukan beban yang harus dibuang. Ia justru salah satu sumber pengaruhmu yang paling kuat. Masalahnya bukan bahwa kamu punya keahlian itu — masalahnya adalah ketika keahlian itu menjadi satu-satunya cara kamu bekerja.