Sibuk memasarkan, tetapi tidak ada yang membeli
Sibuk memasarkan, tetapi tidak ada yang membeli
Coba kenali situasi berikut. Sebuah toko daring mengunggah konten hampir setiap hari. Videonya rapi, keterangannya panjang, tagarnya lengkap. Sesekali unggahannya dipromosikan berbayar. Pemiliknya lelah, timnya sibuk, dan pertanyaan di akhir bulan selalu sama: kenapa pesanannya segitu-segitu saja?
Jawaban yang paling sering terdengar ada tiga: kurang konsisten, algoritmanya berubah, atau harus coba platform baru. Ketiganya jarang menyelesaikan apa pun, karena ketiganya berasumsi bahwa masalahnya ada pada aktivitas. Padahal masalahnya biasanya berada satu lapis di atas aktivitas — pada keputusan yang tidak pernah dibuat sebelum aktivitas dijalankan.
Kanal itu jawaban, bukan pertanyaan
Pemasaran digital biasanya diperkenalkan sebagai daftar kanal: media sosial, mesin pencari, surel, iklan, marketplace. Cara memperkenalkan seperti ini terasa praktis, tetapi menanam kebiasaan berpikir yang keliru. Orang jadi memilih kanal lebih dulu, baru mencari alasannya belakangan. Terbalik.
Dalam praktik yang sehat, kanal adalah jawaban. Pertanyaannya selalu datang lebih dulu, dan bunyinya kira-kira begini: siapa orang yang ingin kita gerakkan, ia sedang berada di titik mana dalam proses membelinya, apa yang ia butuhkan pada titik itu, dan kanal mana yang punya sifat cocok untuk menyediakannya. Sebuah unggahan harian tanpa jawaban atas empat hal tadi hanyalah kesibukan yang kebetulan terlihat seperti pemasaran.
Di sinilah letak perbedaan antara orang yang menjalankan kanal dan orang yang mengambil keputusan pemasaran. Keduanya bisa sama sibuknya. Hanya satu yang bisa menjelaskan kenapa ia mengerjakan itu dan bukan yang lain.
Tiga hal yang kita kerjakan di modul ini
Modul pembuka ini sengaja tidak menyentuh satu pun alat. Tidak ada pengaturan akun iklan, tidak ada pemasangan pelacak, tidak ada pembuatan konten. Semua itu ada di modul-modul berikutnya, dan akan jauh lebih mudah dikerjakan kalau tiga hal berikut sudah kokoh.
Pertama, memilah kanal berdasarkan tiga sifatnya: berapa biayanya dan biaya jenis apa, seberapa besar kendalimu atasnya, dan seberapa cepat ia memberi hasil. Tiga sifat inilah yang membuat kanal berbayar cocok untuk hal yang mendesak dan kanal organik cocok untuk hal yang menumpuk pelan-pelan.
Kedua, memetakan perjalanan satu calon pembeli. Bukan segmen, bukan persona hasil tebakan, melainkan satu orang dengan tanggal dan perilaku yang bisa dibayangkan. Kita akan mengikutinya dari saat ia belum merasa punya masalah sampai saat uangnya berpindah.
Ketiga, memisahkan tujuan dari aktivitas. Kalimat 'posting tiga kali seminggu' dan kalimat 'membuat calon pembeli yang sedang membandingkan penyedia berhenti menanyakan harga lewat pesan' terdengar sama-sama serius. Hanya satu di antaranya yang bisa gagal secara jujur, dan hanya yang bisa gagal itulah yang layak disebut tujuan.
Kasus yang akan kita ikuti
Sepanjang modul ini kita akan mengikuti satu usaha kecil dan satu calon pembelinya: Griya Katering Bu Tuti di Bandung, yang menjual langganan makan siang sehat untuk pekerja kantoran, dan Rani, seorang staf keuangan berusia 31 tahun yang bekerja di sebuah kantor di kawasan Dago. Kasus ini disusun khusus untuk kelas ini sebagai bahan latihan — angka-angkanya bukan data lapangan, melainkan contoh yang dibuat agar langkah analisisnya kelihatan jelas.
Tugasmu sendiri nanti memakai usaha nyata. Karena itu, sebelum melanjutkan ke unit berikutnya, pilih satu usaha yang kamu kenal dengan baik: usahamu sendiri, usaha keluarga, atau tempat kamu bekerja. Syaratnya cuma satu — kamu harus bisa membayangkan setidaknya satu pembeli sungguhan dari usaha itu, orang yang benar-benar pernah membayar, bukan pembeli ideal yang kamu harapkan ada.
Yang berubah setelah modul ini
Setelah modul ini selesai, kamu belum bisa memasang iklan. Tapi kamu akan bisa melakukan sesuatu yang lebih jarang dimiliki orang: menunjuk satu titik dalam perjalanan pembelimu yang paling bocor, menjelaskan dasar dugaanmu, dan menyebutkan kanal jenis apa yang masuk akal untuk menambalnya. Itu keterampilan mengambil keputusan, dan ia tidak kedaluwarsa ketika platformnya berganti.