Angkanya Sudah Ada, Jawabannya Belum
Tiga kebuntuan yang bentuknya mirip
Berikut tiga situasi rekaan. Rekaan, tetapi bentuk kebuntuannya sering ditemui.
Pertama. Sebuah pelatihan keterampilan di balai warga menutup tiap sesi dengan lembar penilaian. Hasil rekapnya bagus: hampir semua peserta mencentang kotak puas dan sangat puas. Namun pada angkatan berikutnya, separuh peserta berhenti datang sebelum pelatihan selesai. Penyelenggara menatap rekap penilaian yang bagus itu dan tidak menemukan satu pun petunjuk tentang mengapa orang pergi.
Kedua. Seorang peneliti pemula sudah mewawancarai enam orang tua murid tentang keputusan memindahkan anak ke sekolah lain. Rekamannya panjang dan kaya. Lalu datang pertanyaan yang membuatnya gugup: enam orang saja, apakah itu mewakili? Ia tidak tahu harus menjawab apa. Diam-diam ia berpikir menambah jumlah informan sampai angkanya terdengar meyakinkan.
Ketiga. Seorang staf koperasi simpan pinjam diminta menjelaskan mengapa tunggakan naik. Ia punya seluruh datanya: siapa menunggak, sejak kapan, berapa besar. Yang tidak ia punya adalah satu kalimat pun tentang apa yang terjadi di rumah anggota pada minggu-minggu sebelum cicilan berhenti.
Apa yang sebenarnya kurang di ketiga kasus
Yang kurang bukan jumlah data. Rekap penilaian pelatihan itu lengkap. Buku angsuran koperasi itu rapi. Yang kurang adalah jenis datanya.
Angka bekerja dengan cara memampatkan. Untuk bisa dijumlahkan, pengalaman seseorang harus terlebih dahulu diubah menjadi satu satuan yang seragam: satu centang, satu skor, satu kategori. Pemampatan itu bukan cacat, itu justru kekuatannya. Berkat pemampatan, kita bisa membandingkan ribuan orang sekaligus dan melihat pola besar yang mustahil dilihat satu per satu.
Masalahnya, yang dibuang saat pemampatan justru sering kali yang kita cari: urutan kejadian, alasan yang saling bertabrakan di kepala satu orang, istilah yang dipakai orang itu sendiri untuk menamai keadaannya, dan konteks yang membuat satu tindakan masuk akal. Peserta pelatihan yang mencentang puas mungkin memang puas pada materi, tetapi berhenti datang karena jadwal sesi bentrok dengan jam kerja sif. Kotak centang tidak punya tempat untuk kalimat itu.
Data kualitatif adalah data yang sengaja tidak dimampatkan lebih dahulu. Bahannya kata-kata: transkrip wawancara, catatan lapangan, dokumen, percakapan, kadang gambar dan rekaman. Ia mahal diolah dan lambat dikumpulkan. Karena itu ia hanya layak dipakai ketika pertanyaannya memang menuntut bahan seperti itu — bukan karena kuesioner terasa merepotkan.
Dua kesalahan awal yang mahal
Kebuntuan di atas biasanya melahirkan dua kesalahan yang sama-sama menghabiskan waktu berbulan-bulan.
Kesalahan pertama: memilih metode sebelum menajamkan pertanyaan. Orang memutuskan akan mewawancarai, lalu baru memikirkan apa yang mau ditanyakan. Hasilnya, transkrip menumpuk tanpa arah, dan pada tahap analisis semua terasa penting sekaligus tidak ada yang bisa disimpulkan.
Kesalahan kedua: menilai kerja kualitatif dengan penggaris kuantitatif. Peneliti pada kasus kedua tadi hampir terjatuh ke sini. Ia hendak menambah informan bukan karena ada hal baru yang belum ia pahami, melainkan agar angkanya enak dilihat. Menambah jumlah tanpa alasan tidak membuat temuan lebih kuat; ia hanya membuat tumpukan bahan lebih tebal dan waktu analisis lebih panjang.
Yang akan Anda kerjakan di modul ini
Modul ini belum menyentuh transkrip sama sekali. Urutannya sengaja begitu: mengolah bahan sebelum tahu apa yang dicari adalah cara tercepat untuk tersesat.
Selesai modul ini, Anda diharapkan sanggup melakukan tiga hal yang bisa diperiksa hasilnya:
- Membedakan — diberi sebuah kasus, Anda bisa menunjukkan mana bagian yang menuntut jawaban berupa angka dan mana yang menuntut jawaban berupa kata, serta menjelaskan dasar pembedaannya.
- Mengevaluasi — Anda bisa menjawab kritik "informannya cuma sedikit, tidak mewakili" dengan alasan yang benar, bukan dengan menambah jumlah informan.
- Merumuskan — Anda menghasilkan satu pertanyaan penelitian yang cukup sempit untuk benar-benar dijawab dengan bahan yang bisa Anda jangkau.
Hasil ketiga itu akan menjadi bahan kerja Anda pada modul-modul berikutnya. Jadi tulislah sungguh-sungguh, bukan sekadar untuk menggugurkan tugas.