Delapan Bulan Molor, dan Tidak Seorang Pun Malas
Sebuah sistem yang molor delapan bulan
SIPADU — sistem informasi pelayanan terpadu — dipesan oleh sebuah dinas pemerintah kota dengan satu tujuan yang terdengar sederhana: warga tidak perlu lagi bolak-balik ke loket untuk mengurus izin. Jadwal yang disepakati di awal enam bulan. Sistem itu akhirnya diserahterimakan pada bulan keempat belas. Molor delapan bulan.
Catatan: SIPADU adalah kasus rekaan yang disusun sebagai bahan ajar. Nama dinas, angka, dan kejadiannya tidak merujuk pada satu instansi tertentu, tetapi polanya akan terasa akrab bagi siapa pun yang pernah ikut mengerjakan pekerjaan semacam ini.
Yang biasanya dituduh
Kalau sebuah pekerjaan molor, tebakan pertama orang hampir selalu sama: timnya lambat, vendornya nakal, atau anggarannya kurang. Pada kasus SIPADU, ketiganya tidak terbukti. Tim teknis lembur berminggu-minggu. Vendor mengganti dua orang programernya dengan yang lebih senior tanpa menaikkan harga. Anggaran bahkan tidak habis terpakai pada tahun pertama.
Orang-orangnya bekerja keras. Hasilnya tetap terlambat delapan bulan. Ini yang membuat kasusnya layak dibedah: kalau kerja keras saja cukup, SIPADU seharusnya selesai tepat waktu.
Yang sebenarnya terjadi
Masalahnya lahir di rapat pertama, jauh sebelum satu baris kode ditulis.
Di rapat itu ada empat gambaran yang berbeda tentang apa yang sedang dibangun. Kepala dinas membayangkan antrean di kantor berkurang. Kepala seksi perizinan membayangkan formulir izin usaha yang bisa diisi dari rumah. Kepala seksi arsip membayangkan berkas lama yang bisa dicari lewat pencarian kata. Vendor membayangkan penyambungan data ke sistem kependudukan supaya warga tidak perlu mengetik ulang identitasnya.
Empat gambaran itu tidak saling bertentangan. Justru itu bahayanya. Karena tampak sejalan, tidak ada yang merasa perlu menuliskannya menjadi satu kalimat yang disepakati bersama. Semua orang keluar rapat dengan perasaan sudah sepakat.
Akibatnya muncul bulan demi bulan. Setiap kali sebuah bagian sistem diperlihatkan, selalu ada peserta rapat yang berkata, “bagus, tinggal ditambah sedikit.” Sedikit itu berbeda-beda: satu jenis izin lagi, satu laporan lagi, satu penyambungan data lagi. Tidak ada satu pun permintaan yang tidak masuk akal. Tidak ada satu pun yang pernah dihitung dampaknya terhadap tanggal selesai.
Dan karena tidak pernah ada pernyataan tertulis tentang apa yang disebut selesai, tanggal selesai tidak pernah bisa dinyatakan meleset. Ia hanya bergeser, terus-menerus, tanpa ada yang merasa telah menggesernya.
Kenapa ini bukan cerita tentang teknologi
Ganti SIPADU dengan pemindahan kantor ke gedung baru, penyusunan berkas akreditasi sekolah, pembukaan cabang koperasi, atau penyelenggaraan pameran produk usaha kecil. Polanya sama: banyak pihak, satu tujuan yang kelihatan jelas padahal belum disepakati, tenggat yang tergerus sedikit demi sedikit, dan pada akhirnya orang menyalahkan kerja keras yang sebenarnya sudah maksimal.
Itulah sebabnya kelas ini dimulai bukan dari definisi, melainkan dari kekacauan. Manajemen proyek lahir dari kebutuhan yang sangat praktis: menyepakati apa yang sedang dikerjakan, sebelum orang-orang mulai mengerjakannya.
Tiga pertanyaan yang dijawab modul ini
Modul pembuka ini menjawab tiga pertanyaan, tidak lebih:
- Kapan sebuah pekerjaan pantas disebut proyek, dan kapan ia sebenarnya kegiatan operasional yang cuma terasa sibuk?
- Tahap apa saja yang dilalui setiap proyek, dan keputusan apa yang khas untuk masing-masing tahap?
- Sebenarnya sampai di mana wewenang seorang manajer proyek, mengingat di banyak organisasi ia bukan atasan siapa-siapa?
Apa yang belum dibahas di sini
Cara menyusun jadwal terperinci, menghitung anggaran, dan mengelola risiko satu per satu bukan bagian dari modul ini. Semuanya menunggu modul-modul berikutnya. Yang perlu kamu bawa keluar dari modul pembuka hanyalah kemampuan mengenali: pekerjaan seperti apa yang ada di depanmu, ia sedang berada di tahap mana, dan siapa yang sebenarnya berhak memutuskan apa.