Ditunjuk Mengurus Sesuatu yang Belum Ada Namanya
Senin pagi, dan semuanya terasa mendesak
Bayangkan kamu bekerja di bagian umum sebuah kantor. Pekerjaan harianmu sudah punya pola yang jelas: membalas surat masuk, mengatur pemakaian ruang rapat, memesan alat tulis ketika stok menipis. Kamu tahu seperti apa hari kerja yang berhasil — surat terbalas, jadwal ruang tidak bentrok, tidak ada yang kehabisan kertas. Besok pekerjaannya akan mirip, dan lusa juga.
Lalu atasanmu lewat dan berkata: Tolong kamu yang urus pemindahan arsip ke gedung baru, ya. Dua bulan lagi semua sudah harus pindah.
Sekilas itu terdengar seperti tambahan kecil. Tiga minggu kemudian kamu menyadari beberapa hal sekaligus. Tidak ada yang tahu persis berapa boks arsip yang harus dipindah. Bagian keuangan menolak membayar sewa truk karena tidak ada mata anggarannya. Dua rekan yang kamu mintai bantuan menjawab bahwa mereka sedang sibuk, dan kamu tidak punya dasar apa pun untuk memaksa. Atasanmu bertanya kenapa lambat, padahal ia sendiri belum pernah menetapkan apa arti selesai untuk pekerjaan ini. Sementara itu surat masuk tetap datang setiap hari dan tetap harus dibalas.
Yang sebenarnya terjadi
Masalahnya bukan kamu kurang rajin. Masalahnya adalah dua jenis pekerjaan yang sangat berbeda diperlakukan dengan cara yang sama.
Membalas surat adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai — dan memang tidak dirancang untuk selesai. Ia berulang, hasilnya seragam, dan keberhasilannya diukur dari kelancaran. Selama arus surat lancar, pekerjaan itu berhasil.
Memindahkan arsip ke gedung baru adalah pekerjaan yang justru dirancang untuk berhenti. Sekali arsip pindah dan tertata, pekerjaan itu tamat; tahun depan tidak diulang. Keberhasilannya tidak diukur dari kelancaran harian, melainkan dari satu pertanyaan tunggal: apakah hasil yang dijanjikan benar-benar ada pada waktu yang dijanjikan.
Dua jenis pekerjaan itu butuh perlakuan berbeda. Pekerjaan rutin butuh prosedur yang stabil. Pekerjaan yang dirancang untuk berhenti butuh sesuatu yang lain: kesepakatan tentang hasil akhirnya, tenggat yang disebut terang-terangan, orang yang ditunjuk mengurusnya, dan kejelasan siapa yang berhak memutuskan apa. Ketika keempat hal itu tidak pernah dibicarakan, yang tersisa hanyalah rasa sibuk tanpa kemajuan yang bisa ditunjukkan.
Tiga pertanyaan yang dijawab modul ini
Modul pembuka ini menjawab tiga pertanyaan, dan tiap pertanyaan punya rumahnya sendiri di unit-unit berikutnya.
Pertama, apa yang membuat sebuah pekerjaan pantas disebut proyek? Bukan besarnya anggaran, bukan pula banyaknya orang yang terlibat. Ada penanda yang lebih tajam dari itu, dan kita bahas tuntas di unit kuliah.
Kedua, kalau memang proyek, ia melewati tahap apa saja dari awal sampai benar-benar ditutup? Banyak pekerjaan gagal bukan karena eksekusinya buruk, melainkan karena dimulai tanpa pernah diinisiasi dan diakhiri tanpa pernah ditutup.
Ketiga, kalau kamu yang ditunjuk mengurusnya, sebenarnya apa wewenangmu? Ini pertanyaan yang paling sering ditelan begitu saja. Orang menerima tugas mengurus sesuatu tanpa pernah menanyakan keputusan mana yang boleh ia ambil sendiri dan keputusan mana yang harus naik ke atas.
Kenapa ini bukan sekadar soal istilah
Menyebut sesuatu sebagai proyek punya akibat praktis. Ia berarti seseorang harus menyediakan dana dan orang secara khusus, bukan menitipkannya di sela pekerjaan harian. Ia berarti ada tanggal ketika pekerjaan itu boleh dinyatakan berakhir, sehingga kamu punya dasar untuk bilang bahwa tugasmu tuntas. Dan ia berarti ada pihak yang berwenang menerima hasilnya — tanpa itu, pekerjaanmu akan menggantung selamanya karena tidak ada yang pernah menyatakan bahwa hasilnya cukup.
Sebaliknya, memaksa pekerjaan rutin menjadi proyek juga merepotkan. Membalas surat tidak perlu jadwal bertahap dan rapat evaluasi mingguan; ia perlu prosedur yang jelas dan orang yang cukup.
Yang akan kamu bawa pulang
Setelah modul ini, kamu diharapkan bisa memilah daftar pekerjaanmu sendiri ke dalam dua kolom, menempatkan pekerjaan proyek pada tahap yang benar, dan menunjukkan dengan tenang keputusan mana yang bukan milikmu untuk diambil.
Satu catatan istilah yang dipakai konsisten sepanjang kelas ini: pemilik proyek adalah pihak yang menghendaki dan mendanai hasilnya, manajer proyek adalah orang yang mengurus jalannya pekerjaan, dan pelaksana teknis adalah orang yang mengerjakan pekerjaannya. Tiga sebutan itu tidak akan berganti-ganti nama di modul berikutnya.